Membangun Mental dan Karakter Bangsa oleh Ibnu Syirin SS
Merujuk pada semangat dasar pendirian bangsa oleh para founding fathers, para pakar melihat bahwa bangsa Indonesia dibangun atas semangat kemandirian untuk menentukan nasibnya yang ditopang oleh nilai-nilai luhur kehidupan bersama. Seharusnya semangat dasar itu dapat menentukan dan mewarnai arah kebijakan yang dibuat oleh para pemangku kebijakan publik di negeri ini.
Para pakar menilai, tanpa karakter yang kuat, arah perjalanan bangsa ini pada akhirnya diombang-ambing oleh arah angin yang tak menentu. Kondisi seperti ini sebenarnya dapat kita hindari bila kita sudah menegaskan kemana kita akan melangkah dan kita berkomitmen pada janji nasional yang sudah kita patri di dada ini. Dengan semangat kemandirian, kita harus menentukan nasib kita sendiri tanpa mau didikte oleh kepentingan pihak luar. Dalam menentukan reason d’etre bangsa ini, para pendiri bangsa sudah merumuskannya dengan sangat baik “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial
Penentangan kita terhadap segala bentuk penjajahan adalah karena hal itu bertentangan dengan semangat kemandirian menentukan nasib sendiri. Dan ketika bangsa ini sudah merdeka maka seharusnya seluruh upaya dapat diarahkan untuk mewujudkan mimpi yang sudah kita pancangkan dalam PIAGAM/DEKLARASI KEMERDEKAAN.
Berkaitan dengan upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan, selain pembangunan fisik kita juga perlu MEMBANGUN MENTAL atau KARAKTER BANGSA. Dalam pembangunan karakter bangsa tersebut, bisa saja datang dari nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa ini atau bisa juga datang dari nilai-nilai luhur bangsa lain yang baik untuk dikembangkan demi kemajuan bangsa Indonesia.
Sebagai sebuah bangsa tentu kita tidak bisa menutup diri dari sesuatu yang dianggap asing. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu memilah-milah sesuatu yang kita anggap baik untuk masa depan bangsa Indonesia . Dengan pembangunan karakter yang kuat kita dapat melangkah lebih percaya diri dalam mengarungi arus globalisasi yang sudah menerobos wilayah kebangsaan.
Namun salah satu hal yang sangat kita sayangkan dari semua mimpi dan harapan yang sudah kita pancangkan, bangsa ini kini justru terperosok pada situasi yang sangat memperihatinkan. Setelah dihantam oleh krisis multi dimensi lebih dari satu dekade lalu, kita sebenarnya mendapatkan momentum yang sangat baik untuk merestorasi tata kelola kehidupan berbangsa yang sudah rusak. Sayangnya proses itu tidak berjalan dengan mulus sehingga kerja keras yang sudah dilakukan tidak menghasilkan cita-cita yang diharapkan. Dari aspek pembangunan karakter kebangsaan yang luhur, bangsa ini semakin terjebak pada praktik korup di semua lini. Dalam praktik hukum kita mendapati para mafia yang menjual belikan perkara, dalam politik kita hanya menemukan dagelan, dalam pendidikan kita hanya memperdebatkan proyek yang ujung-ujungnya duit dan belum lagi bila kita melihat sisi-sisi yang lain.
Situasi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut namun bukan berarti bahwa kita akan dapat mengubah situasi buruk ini semudah membalik tangan. Persoalan yang kita hadapi sangatlah kompleks. Dan tidak ada satu gerakan perbaikan yang mampu menuntaskan seluruh persoalan yang ada. Yang kita perlukan saat ini adalah bahwa kita harus sedikit mengambil jarak dengan segala persoalan yang kita hadapi. Perlahan-lahan kita mulai dari ruang yang paling kecil, yakni diri kita sendiri dan kemudian lingkungan terdekat untuk menumbuhkan harapan positif di masa depan bangsa. Barangkali hanya sedikit yang kita lakukan, namun bisa jadi ia akan bermakna banyak bagi masa depan bangsa ini. Saatnya kita mulai sekarang!
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Apa dan Siapa
- Presiden meminta agar agama dijadikan sebagai landasan moral dan etika
- Menag: Cara Pandang Kerukunan Beragama Harus Jernih
- Buya Hamka, Mendapat Anugerah Pahlawan Nasional
- Keteguhan Ramlah binti Abu Sufyan Dalam Memeluk Islam
- "RADEN AJENG KARTINI" Pahlawan Pejuang Wanita
- Membangun Karakter Bangsa dengan Mental yang Sehat oleh Free Hearty*)
- Membangun Mental dan Karakter Bangsa oleh Ibnu Syirin SS
- Arrial Dwi Sentosa, Bocah 12 Tahun Bisa Buat Antivirus
- Suryadharma Ali Stop Diperbudak Rokok
- Kunjungan Obama ke Indonesia Lebih "Welcome"
- Infotaimen Berbau Klenik dan Mistik dan Ahli Kebathinan yang Menyesatkan Masyarakat
- Ilmuwan Mesir Prof Dr Zagloul Mohamed El-Naggar : Kemajuan Iptek Ungkap Keajaiban Al Quran
- Penggagas Hari Membakar Alquran Dibayangi Kebangkrutan
- Perempuan Tua Wasiatkan Seikat Sapu Lidi
- MUI: Dua Vaksin Manengitis Menveo Meningococcal, dan Mevac ACWY 135 Halal Untuk Jamaah Haji
- Kak Seto Mulyadi: Empati Terhadap Anak-anak Saat Ini Kurang
- Dr. K.H. Idham Kholid: Semasa Hidupnya Menerima Amanah Berbagai Posisi Penting
- Presiden SBY: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar, Dengan Pemikiran Besar dan Jasa Sangat Besar
- Keluarga Besar BJ Habibie Berterima Kasih Kepada Pemerintah RI
- Riwayat Hidup Ainun Habibie
- Pemerintah Kota Surakarta, Gesang Akan Dijadikan Nama Jalan
- Paus: Gereja Harus Bertobat, Karena Menjadi Sarang Dosa!
- Sahal Mahfudh, Kemajemukan Umat Islam Indonesia Perlu Sinergi Antar Komponen Umat Islam
- Suryadharma Ali: Al Quran Sebagai Inspirator Kemajuan Untuk Menggapai Kehidupan Lebih Baik
- Ponpes Karya Nyata Caringin Bogor Telah Melatih 47.500 Peserta Agribisnis Terpadu
- MK, Akan Memutus Perkara Uji Materiil Undang-Undang Pencegahan Penodaan Agama
- KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) dan KH. Hasyim Muzadi Ditetapkan Sebagai Wakil Rais PBNU
- Din Syamsuddin: Prinsip Muhammadiyah Banyak Disalahpahami
- Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Buramnya Pendidikan Agama, Benarkah?
- Amien Rais, Century Dan Kisah Nabi Isa













