Tafsir Ath Thabari QS 01 - Al Fatihah : Ayat 1
Abu Ja'far berkata : kata الرَّحْمنِ mengikuti bentuk kata قعلان yang berasal dari akar kata رحم dan الرَّحِيْمِ adalah mengikuti bentuk kata فعيل dari akar kata yang sama. Orang Arab seringkali membentuk kata benda dari kata kerja قعل يفعل atas قعلان seperti perkataan mereka عطش يعطس عطشان , غضب يضب غضبان , سكر يسكر سكران demikian pula perkataan mereka: رحم يرحم رحمن Adapun bentuk kata رحيم karena ia pujian, dimana orang Arab jika menyebut kata benda yang berindikasi pujian atau celaan maka mereka menyesuaikannya dengan bentuk kata فعيل , misalnya dari akar kata : علم adalah عالم dan عليم, dan dari akar kata : adalah قدر dan قادر
Kalau ada orang yang berkata, jika kata الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ adalah dua nama yang diambil dari kata الرحمة (kasih sayang), lalu kenapa ia diulang sementara maknanya sama?
Jawabannya: ia tidak seperti yang Anda duga, akan tetapi masing-masing dari keduanya memiliki makna yang tersendiri. Adapun secara etimologi, tidak seorang pun ahli bahasa yang memungkiri bahwa kata ; الرَّحْمنِ memiliki makna yang lebih spesifik daripada kata الرَّحِيْمِ meskipun keduanya berasal dari akar kata yang sama. Kemudian, dari akar kata aslinya maknanya lebih spesifik daripada bentuk kata benda aslinya, dimana yang disifati dengannya lebih utama daripada yang disifati dengan kata benda aslinya jika menyangkut pujian atau celaan. Adapun dari sisi riwayat ditemukan sejumlah pendapat yang berbeda.
1. As-Sari bin Yahya At-Tamimi menceritakan kepadaku, katanya, Utsman bin Zufar menceritakan kepada kami, katanya, aku mendengar Al Arzami metafsirkan : الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ katanya, الرَّحْمنِ meliputi seluruh makhluk, dan الرَّحِيْمِ khusus untuk orang-orang yang beriman.
2. Ismail bin Fadhi menceritakan kepada kami, katanya, Ibrahim bin 'Ala' menceritakan kepada kami, katanya, Ismail bin Ayyasy menceritakan kepada kami dari Ismail bin Yahya, dan Ibnu Abi Mulaikah, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari Ibnu Mis'ud dan Mas'ar bin Kidam, dari Athiyah Al Aufi, dan Abu Sa'id Al Khudri, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمْ قَالَ : الرَّحْمنُ : رَحْمَنُ الاَخِرَةِ وَ الّدُنْيَا , الرَّحِيْمُ : رَحِيْمُ الاَجِرةِ
“Bahwa Isa bin Maryam mengatakan, الرَّحْمنِ adalah Maha Pengasih di dunia dan akhirat, dan الرَّحِيْمِ adalah Maha Penyayang diakhirat. "
Kedua riwayat ini menginformasikan bahwa masing masing dari keduanya memiliki makna tersendiri. Dan jika ada orang yang bertanya, "Lalu yang mana diantara kedua petafsiran tersebut yang lebih utama menurut Anda?"
Jawabannya : menurut kami keduanya benar dan tidak ada istilah lebih utama. Karena dengan sifat الرَّحْمنِ Allah disebut Penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dengan sifat الرَّحِيْمِ Allah disebut Penyayang terhadap sekelompok makhluk-Nya, baik dalam segala kondisi maupun kondisi tertentu. Jika demikian adanya, maka kasih sayang yang khusus tersebut tidak mustahil adanya, baik di dunia maupun di akhirat, atau pada kedua-duanya. Dan jika Allah telah mengkhususkan kasih sayangNya di dunia untuk para hamba-Nya yang beriman dengan memberikan kemudahan kepada mereka dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, sebuah anugerah yang tidak diberikan kepada orang-orang yang ingkar, dan menyediakan bagi mereka balasan surga yang penuh dengan kenikmatan di hari akhir kelak, maka nyatalah bahwa Allah telah memberikan anugerah secara khusus bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya di dunia dan di akhirat, di samping anugerah - anugerah lain yang diturunkan secara umum mencakup yang mukmin dan yang kafir, seperti anugerah rezeki, kesehatan fisik dan akal, hujan, tanaman, binatang dan anugerah-anugerah lain yang tidak terhitung jumlahnya. Jadi, Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih atas sekalian makhluk-Nya di dunia dan di akhirat, dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya yang beriman secara khusus di dunia dan di akhirat.
Adapun kasih sayang Allah di dunia yang diberikan secara khusus kepada para hamba-Nya yang beriman tersebut adalah sesuai firman-Nya,
"Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. " (Qs. Al Ahzaab [33] : 43).
Sedangkan kasih sayang Allah yang dilimpahkan kepada seluruh makhlukNya di dunia tidak terhitung jumlahnya, sesuai firman Allah SWT,
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). " (Qs. Ibraahiim [14] : 34).
Adapun kasih sayang Allah di akhirat yang meliputi seluruh makhlukNya adalah keadilan Allah dalam memutuskan amal perbuatan manusia, dimana tidak seorang pun yang dianiaya oleh-Nya, dan masing-masing memperoleh balasan yang setimpal atas perbuatannya. Sedangkan kasih sayang Allah di akhirat yang diberikan secara khusus kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya adalah balasan surga dan kenikmatan yang abadi selama-lamanya.
Pendapat kedua dalam petafsiran ini adalah:
3. Seperti diceritakan oleh Abu Karib kepada kami, katanya, Utsman bin Sa'id menceritakan kepada kami, katanya, Basyar bin Imarah menceritakan kepada kami, katanya, Abu Rauq menceritakan kepada kami dari Adh-Dhahak, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, الرَّحْمنِ adalah bentuk kata الفلان dari kata الرحمة menurut perkataan Arab. Dan الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ dapat diartikan pula dengan Yang Maha Lembut lagi Maha Berbelas-Kasih terhadap orang yang disayangi-Nya, Yang Jauh dan sifat Kejam terhadap orang yang dibenci-Nya. Demikian arti seluruh namaNya
Petafsiran Ibnu Abbas ini mengindikasikan bahwa orang yang di"rahmani "Allah adalah dia yang di "rahimi "-Nya, meskipun terdapat perbedaan antara makna keduanya, dimana Ibnu Abbas mengartikan الرَّحْمنِ : Yang Maha Lembut, dan الرَّحِيْمِ : Yang Maha Belas Kasihan. Dan petafsiran pertama yang kami riwayatkan dari Nabi SAW dan dari Al Arzami adalah lebih mendekati kebenaran daripada petafsiran Ibnu Abbas ini, meskipun pendapat ini sejalan maknanya dengan pendapat yang pertama, dimana masing-masing dari الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ memiliki makna sendiri-sendiri.
Dan pendapat ketiga dalam petafsiran ini adalah :
4. Sebagaimana yang diceritakan oleh Imran bin Bakar Al Kila'i kepadaku, katanya, Yahya bin Shalih menceritakan kepada kami, katanya, Abul Azhar Nashr bin Amru Al Lakhmi dari penduduk Palestina menceritakan kepada kami, katanya, aku pernah mendengar Atha' Al Khurasani mengatakan, "Mula-mula الرَّحْمنِ adalah lalu ketika nama tersebut diputus dari nama-Nya maka ia pun menjadi الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Yang dimaksud oleh Atha' —insya Allah benar— bahwa الرَّحْمنِ adalah salah satu nama Allah yang semula tidak dimiliki oleh siapapun dari makhluk-Nya, lalu ketika si pendusta, Musailamah, meniru nama tersebut, maka Allah memaklumkan kepada sekalian makhluk-Nya bahwa namaNya adalah الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ untuk memisahkan antara nama-Nya dengan nama yang lain-Nya, karena tidak seorang pun yang menamakan dirinya الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ secara sekaligus kecuali Allah Ta 'ala, sedangkan makhluk-Nya ia entah menggunakan nama rahman saja atau nama rahim saja. Jadi, seakan-akan yang dimaksud oleh Atha', bahwa Allah menambah kata الرَّحِيْمِ sesudah الرَّحْمنِ adalah untuk memisahkan antara nama-Nya dengan nama yang lain-Nya, baik makna keduanya sama atau berbeda.
Dan yang dikatakan oleh Atha' ini tidak ada salahnya, justru boleh-boleh saja Allah mengkhususkan Dzat-Nya dengan kedua nama tersebut sekaligus untuk dimaklumi para hamba-Nya bahwa yang dimaksud dengannya adalah Allah Ta 'ala, di samping petafsiran makna yang berbeda antara keduanya. Sebagian orang yang bodoh mengira bahwa bangsa Arab tidak mengenal nama Ar-Rahman dalam bahasanya. Karena orang-orang musyrik mengingkari nama tersebut dan mengatakan kepada Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Al Qur'an :
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, `Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang', mereka menjawab, `Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya), dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)." (Qs. Al Furqaan [25]: 60).
Ayat ini menginformasikan bahwa Al Qur'an merasa heran, bagaimana mungkin orang-orang musyrik tersebut mengingkari apa yang mereka ketahui sebenamya? Apakah mereka seperti halnya Para ahli kitab yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya,
"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (Qs. Al Baciarah [2]: 146).
Kebodohan orang-orang jahiliyah ini dicatat oleh seorang penyair dalam sebuah syairnya :
"Tidakkah gadis itu menutupi celanya, tidakkah Ar-Rahman Tuhan-ku memutuskan sumpah-Nya. "Juga Salamah bin Jandal As-Sa' idi melantunkan: "Kalian tergesa-gesa atas kami seperti kami tergesa-gesa atas kalian, padahal apa yang dikehendaki oleh Ar-Rahman pastilah terjadi dan terlaksana."
Ada sebagian orang yang tidak mengerti ilmu tafsir mengatakan bahwa الرَّحْمنِ adalah kata kiasan ذوارحمة yang berarti pemilik rahmat, dan الرَّحِيْمِ adalah kata kiasan الراحم yang berarti pengasih. Dua lafazh ini menurutnya berbeda bentuknya namun satu maknanya. Ia seperti halnya kata ند ما نdan ند يم yang berarti orang yang menyesal. Sebagaimana kata penyair Burj bin Mashar Ath-Tha` i
"Dan penyesalan menambah curam semakin harum, aku minum dan bintang-bintang telah terbenam."
Lalu ia menyebutkan sejumlah syair untuk menguatkan pendapatnya. Dan tidak diragukan lagi, bahwa makna ذوالرحمة adalah yang memiliki rahmat, dan rahmat telah menjadi sifatnya, sedang الراحمة adalah yang sifatnya akan merahmati, atau telah merahmati dan ia telah berlalu, atau ia masih ada padanya, dan ketika itu tidak ada indikasi bahwa rahmat menjadi sifatnya, seperti indikasi bahwa rahmat menjadi sifatnya ketika ia disebut ذوالرحمة, lalu mana makna الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ dari petafsirannya atas dua kata yang menurutnya lafazhnya berbeda namun maknanya sama? Dan suatu pendapat jika tidak bersandarkan pada alasan yang kuat maka jelaslah kesalahannya.
Dan jika ada orang yang berkata, lalu kenapa nama 'Allah' didahulukan atas nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim?
Jawabannya: Karena tatkala orang Arab hendak menginformasikan suatu berita dan pembawa beritanya, ia menyebutkan namanya terlebih dahulu lalu sifatnya. Dan demikian semestinya, yaitu menyebutkan nama sebelum sifat agar pendengar mengetahui dari siapa datangnya berita tersebut. Jika hal itu demikian, dimana Allah memiliki nama-nama yang khusus bagi Dzat-Nya dan tidak boleh digunakan oleh hamba-Nya seperti: Allah, Ar-Rahman, Al Khaliq dan sejenisnya, dan nama-nama yang boleh digunakan oleh hamba-Nya seperti: Ar-Rahim, As-Sami', Al Bashir, Karim dan yang sejenisnya, maka pantaslah bagi Allah untuk mendahulukan nama-Nya yang khusus atas nama-Nya yang umum agar pendengar mengetahui terlebih dahulu siapa yang berhak dipuji dan diagungkan. MakaAllah memulai dengan menyebutkan nama-Nya, 'Allah', karena tidak ada Tuhan selain Dia, baik dari sisi nama maupun makna.
Di mana telah kami jelaskan sebelurnnya bahwa lafazh 'Allah' maknanya adalah yang berhak disembah, dan tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, dan bahwasanya menggunakan nama-Nya adalah diharamkan oleh-Nya apapun alasannya.
Tidakkah Anda lihat bahwa Allah menyatakan dengan sombong dalam sejumlah ayat-Nya: أَئِلَهٌ مَعَ اللّهِ yang artinya: "adakah Tuhan selain Allah. " Dan menyebutkan nama-Nya yang khusus bagi Dzat-Nya dalam firman-Nya,
"Katakanlah: `Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu'. " (Qs. Al Israa' [l7]: 110).
Dalam ayat ini Allah menyebutkan nama 'Ar-Rahman' setelah nama 'Allah', karena boleh saja manusia menggunakan nama dari sebagian sifat rahmat, tetapi tidak boleh menggunakan nama 'Allah' karena bermakna Tuhan. Oleh karenanya nama 'Ar-Rahman' disebutkan setelah nama `Allah'.
Adapun 'Ar-Rahim' ia boleh digunakan sebagai nama, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya. Dan pendapat kami ini sesuai dengan pendapat Hasan Al Bashri yang melarang penggunaanAr-Rahman sebagai nama makhluk.
5. Seperti diceritakan oleh Muhammad bin Basyar kepada kami, katanya, Hamad bin Mas' adah menceritakan kepada kami dari Auf, dari Hasan, ia berkata, "Ar-Rahman tidak boleh digunakan sebagai nama."
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
ARTIKEL ISLAM
- Siapkan Generasi Masa Depan Berkualitas
- Kamarul Zaman: Jujur Itu Emas
- Menjemput Kemuliaan Lailatul Qadar Oleh : Dzikrul Hakim
- Kemaksiatan Akan Melahirkan Maksiat Lainnya
- RAJAB BULAN YANG DIPERHITUNGKAN ALLAH OLEH : Dzikrul Hakim
- Hawa Nafsu oleh Mochamad Nahroedien
- Islam Agama Rahmatan Lil ‘Alamin
- Perjalanan Spiritual RA. Kartini
- Resep Hidup Bahagia oleh Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
- Mari Mengingat Al-Maut (Kematian) Oleh Abu Isma’il Muslim Al-Atsari
- Hakikat Istiqomah dan Tanda-tandanya oleh Dzikrul Hakim
- Pemimpin yang Menipu Rakyat Oleh Adhie M Massardi
- Membangun Masyarakat Madani Berbasis Kearifan Lokal Oleh Dadang Respati Puguh
- Menciptakan Surga di Rumah
- Tiga Amalan Istimewa Penuntun Langkah Menuju Ridho Allah Oleh : KH. Muhammad Anwar Manshur
- Peran Individu dalam Kebangkitan Bangsa oleh Dr. Mushthafa as Siba'i
- Kekuatan Do’a Oleh K.H. Shiddiq Amien
- Maulid Nabi Saw, Lahirnya Peradaban Baru Oleh : Muhammad Taufik N.T
- Kalimat Tauhid Pembuka Pintu Hati
- Dengan Kasih Sayang, Manusia dan Bumi Bisa Bersanding Oleh Prof KH Ali Yafie













