Urgensi Niat dan Ikhlas

Addthis

Bismillahirrahmanirrahim, kata-kata NIAT dan IKHLAS, insyaallah tidak asing lagi dalam bahasa keseharian kita. Bahkan barangkali diantara kita sudah berulang kali mencoba mengkaji dua hal yang sangat menentukan berarti atau tidaknya ibadah kita di mata Allah. Jika dikaitkan konsep niat dalam Islam berdasarkan ilmu psikologi, maka dapat dikaitkan dengan konsep dasar motif dan motivasi. Motif (motive) adalah keadaan kompleks dalam diri individu yang mengarahkan perilaku pada satu tujuan atau insentif, atau faktor penggerak perilaku, atau konstruk teoritik tentang terjadinya perilaku.

Motif dapat dikelompokkan menjadi primer (dorongan fisiologis, dorongan umum) dan sekunder. Woodwort dan Marquis mengelompokkan motif menjadi tiga, yaitu motif organis, motif darurat, dan motif obyektif. Indikator motif terdiri atas: durasi, frekuensi, persistensi, devosi, ketabahan, aspirasi, kualifikasi prestasi, dan sikap. Upaya untuk meningkatkan motivasi diantaranya menciptakan situasi kompetisi yang sehat, membuat tujuan antara, menginformasikan tujuan dengan jelas, memberikan ganjaran, dan tersedianya kesempatan untuk sukses.

Sepintas sangat terasa kesan ilmu psikologi yang sangat mementingkan pengukuran tingkah laku secara empirik. Sementara dalam sudut pandang Islam menurut Mohd. Alkhori NIAT dan IKHLAS dengan sederhana bisa diukur dengan ILMU FIQIH, Jika seseorang ingin menegakan Shalat, maka shalat beliau itu dimulai dengan NIAT dan diakhiri dengan salam. (hanya tentang niat ada masalah kilafiyah, terserah mana yang mau dipilih dua-duanya adalah benar). Dan selalu niat tersebut diakhiri dengan Lillaahi Ta'ala yang bermakna adalah IKHLAS yang juga ikhlas tersebut dalam artian untuk Allah.

Niat menjadi penentu bagi diterima atau tidaknya suatu amal. Sementara syaitan akan selalu memberi bisikan agar manusia memiliki niat yg salah dalam beramal. Penyimpangan niat, bisa berbentuk riya (berbuat karena orang lain) atau syirik (berbuat utk selain Allah SWT), yang akan menjadikan amal seperti debu, tidak bernilai.

Amal yang sedikit bila diniatkan dengan benar, akan bernilai besar, tapi sebaliknya amal yang banyak bila disertai niat yang salah, tidak bernilai apa-apa.

Hakikat Niat

Al-Khaththaby berkata,”Niat adalah tujuan yang terdetik di dalam hatimu dan menuntut darimu.”

Niat adalah kehendak yang pasti dan hanya ada di dalam hati. Karena niat merupakan amalan hati secara murni, dan bukan amalan lidah, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap menjaga niat agar senantiasa berada dalam koridor keikhlasan karena Allah semata.

Tujuan (ghoyah) terdiri dari tiga macam :

1.   Allah

2.   Kepada selain Allah (ghairullah)

3.   Kombinasi keduanya, Allah + ghairullah. Tujuan semacam ini lah yang paling banyak terjadi pada manusia.

Adanya niat tidak terlepas dari adanya itikad (keyakinan yang kuat akan melahirkan sesuatu). Itikad bisa salah atau benar.

a. Itikad yang salah :

·  Kafir

·  Berbuat bukan karena, dengan, dan tujuan Allah

·  Islam tapi  setengah-setengah (QS.2:126)

·  Mengapa terjadi? Karena mereka tidak memiliki tiga hal kepada Allah, yaitu : Cinta (hubbun), takut (khauf), harapan (roja’) kepada Allah (QS.1:5; 98:5; 6:162)


b. Itikad yang benar

Yang perbuatannya, hartanya, serta jiwanya diserahkan karena, dengan cara, dan bertujuan hanya kepada Allah semata (QS.13:110). Allah dijadikan tujuan hidupnya serta meyakini bahwa kesenangan akan pujian dan kebahagian yang berasal dari allah pasti lebih besar dari yang berasal dari dunia (makhluk).


Ikhlas berasal dari kata khalash yang secara lughawi berarti membersihkan. Sedangkan secara istilah artinya membersihkan niat dan motivasi, serta hanya menjadikan Allah sebagai tujuan.

Lawan dari Ikhlas adalah riya’ yaitu beramal karena mencari keridhoan manusia, ingin dipuji, dan bukan karena Allah. Riya’ termasuk salah satu dosa besar yang merusak, dan ancaman terhadapnya sangat besar dan keras dalam Al-Quran dan Hadits (QS.2:264; 4:38; 8:47). Riya’ juga termasuk kedalam sifat orang munafik dan orang kafir (4:142; 107:5-7)

Sumber bacaan: Ikhlas Sumber Kekuatan Islam, DR. Yusuf Qardhawi

Add comment


Security code
Refresh