Drs. KH. Dimyati Umar: Tiga Klasifikasi Ibadah di Bulan Dzulhijjah

Berita Babinrohis-Nakertrans

Addthis

Drs. KH. Dimyati Umar dalam khutbah Idul Adha yang diselenggarakan oleh DKM Al-Muhajirin Babinrohis Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi hari Rabu (17/10) di Halaman Kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jl. TMP. Kalibata No. 17  Jakarta Selatan mengatakan bahwa ada tiga klasifikasi ibadah umat Islam pada bulan Dzulhijjah. Pertama, Ibadah Kelas Ringan seperti Puasa Arafah, yaitu amalan puasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi kaum Islam yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun tentang fadhilah atau keutamaan berpuasa pada hari Arafah adalah dapat menebus dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang. Hal ini didasarkan pada hadits, "Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, dan puasa Assyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat."  (HR.Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah).

Kedua, Ibadah Kelas Menengah yaitu Menyembelih Hewan Qurban. Ujian keimanan ini pernah dirasakan oleh Nabiyullah Ibrahim AS pada saat menerima wahyu melalui mimpinya agar menyembelih putranya Nabi Ismail AS. Kemenangan Nabi Ibrahim adalah beliau lulus dalam menerima ujian dari Allah SWT atas ketaatannya melaksanakan perintah Tuhannya maka Nabi Ismail selamat dan Allah menggantinya dengan seekor Domb (Gibas). Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail akhirnya menjadi sosok manusia teladan dan manusia mulia yang dimuliakan yang risalahnya diikuti dan dilanjutkan oleh umat Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, Ibadah Kelas Berat yaitu ritual Ibadah Haji. Kenapa dikatakan bahwa ibadah haji adalah ibadah yang paling berat? Karena ibadah ini selain memerlukan ilmu, juga membutuhkan biaya yang besar, badan yang sehat baik jasmani dan rohani serta niat yang sungguh-sungguh semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Balasan ibadah haji Mabrûr adalah surga. Mabrûr yang secara bahasa berarti baik dan dianggap sah, tidak saja cukup terkumpul padanya rukun dan syarat. Namun juga, dan ini yang lebih penting, adalah memiliki implikasi sosial terhadap pelakunya. Sebagaimana disinyalir Prof. Dr. Abdul Fatah Mahmud Idris, dalam suatu pengabdian (al-'ibâdah), mesti terkumpul di dalamnya tiga aspek: spirit (niat), ritus (praktek) dan pengaruh/hikmah (sosial). Demikianlah keharusan pelibatan tiga aspek tersebut, agar selanjutnya kita tidak terjebak dalam menangkap makna ibadah haji secara parsial.

Ibadah haji bukanlah produk budaya yang bisa dianggap sahih atas pertimbangan pandangan dan kebiasaan kebanyakan orang. Ibadah haji bukan pula sekedar raihan gelar atau rihlah (bepergian) spiritual, hanya untuk melihat aura ka'bah dan jejak-jejak peninggalan para teladan sepanjang zaman. Ia memiliki pertanggungjawaban ekstatologis (ukhrâwî) sekaligus mengemban amanah sosial (ardlî).

Betapa filosofi rukun Islam menempatkan ibadah haji sebagai kewajiban klimaks seorang Muslim. Dalam gizi makanan, haji ibarat minuman penyempurna setelah empat kewajiban sebelumnya. Ia disimpan sebagai rukun terakhir setelah pengorbanan lisan melalui kesaksian (syahâdah), pengorbanan waktu melalui kewajiban shalat, pengorbanan harta dengan keharusan zakat. Inilah kenapa istilah manâsik yang berarti pengorbanan, selalu digandengkan dengan ibadah haji. Tiada lain, dalam menunaikan ibadah ini senantiasa menuntut aneka pengorbanan yang selanjutnya mesti membekas pada perilaku kemanusiaannya.


Namun demikian, setelah ibadah haji, tidak berarti selesai segala-galanya. Ia, justru menjadi pintu gerbang awal menuju ibadah dan pembinaan kesalehan sosial lainnya (jihâd). Ibadah haji disebut klimaks, karena ia menjadi penutup kewajiban pengabdian seorang Muslim secara individual, bukan kewajiban sosial. Pendeknya, dari individu ke masyarakat.

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah Saw. pernah ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Rasul menjawab, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya". "Kemudian apa?", "Jihad dijalan Allah". "Kemudian apa lagi?", "Haji Mabrûr".

Haji bukanlah gengsi maupun prestasi sosial, melainkan gengsi kualitas kemanusian. Ia menjadi puncak kedewasaan mental-spiritual seorang manusia, karena yang dituju adalah Ibrahim as. sebagai Bapak manusia berkualitas (al-hanîf) sekaligus peletak pertama ibadah ini. Ibnu Syirin SS

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

Add comment


Security code
Refresh

Berita Babinrohis