Nasaruddin Umar : Pembinaan Umat Diorientasikan Menuju Kemandirian
Jakarta - Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, agar pembinaan umat beragama diorientasikan untuk membangun kemandirian umat."Kalau umat tidak mandiri, bisa memicu etatisme bangsa atau negara, yang dapat menimbulkan kerugian," ujar Wamenag ketika menjadi pembicara kunci pada Seminar Pemberdayaan Umat dan Penguatan Regulasi untuk Kerukunan Umat Beragama di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Rabu (18/1).
Menurut Wamenag, pada dasarnya regulasi untuk mengatur umat beragama tidak diperlukan, tapi jika masyarakat masih membutuhkan regulasi itu, maka malapetaka jika kita tidak mendukung regulasi tersebut.
Yang terpenting, kata Wamenag Nasaruddin Umar, dalam proses pembuatan regulasi tersebut adalah sentuhan rohani."Ini penting untuk menyiapkan masyarakat menuju masa depan," tegasnya.
Wamenag menambahkan, regulasi untuk mengatur umat beragama itu, seperti pil pahit yang kita butuhkan untuk menyembuhkan penyakit. "Jika penyakit sudah sembuh, kita tak perlu lagi meminum obat itu terus menerus," ujarnya.
Sementara itu Rektor UIN Jakarta, Komaruddin berpendapat, negara tak perlu mengatur umat dalam menjalankan ibadah. Tetapi warga sebagai pemeluk agama patut mendapat perlindungan dan pelayanan. Karena itu, pemeluk agama dan pemerintah harus saling berterima kasih. Sebab, tanpa pemerintah yang melindungi warganya akan terjadi disharmonisasi di masyarakat. Di sisi lain, pemerintah tanpa agama termasuk dengan Ormas keagamaan harus berterima kasih pula.
"Siapa yang mampu mengatasi terorisme jika tak ada Ormas seperti Muhammadiyah dan NU," kata Komaruddin Hidayat.
Tetapi, lanjut Komaruddin, belakangan ini peran agama sudah sedemikian penting. Politikus perlu instrument agama untuk mendapatkan dukungan. Namun ketika ada persoalan keagamaan, sikap elit politik kadang berubah dalam menyikapinya lantaran takut kehilangan legitimasi. Dalam keadaan demikian, untuk mengatasinya perlu kearifan dari semua pihak agar harmonisasi di tengah masyarakat tak terganggu. Sumber: Kemanag
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Berita Babinrohis
- Boediono: Masjid Jangan Jatuh ke Tangan Penyebar Radikalisme dan Terorisme
- Pendidikan Modern Tertua Ada di Pesantren
- Presiden Akan Hadiri Harlah IPHI di Solo
- Menag: Ulama dan Tokoh Agama Harus Luruskan Demokrasi yang Kebablasan
- Komaruddin Hidayat: Agama Sebagai Peradaban, Bukan Alat Kepentingan Politik
- Suryadharma Ali: Perbedaan Agama atau Golongan Jangan Timbulkan Perpecahan Umat
- SBY Ajak Masyarakat Indonesia Kembali ke Jati Diri Bangsa yang Mulia
- SBY: Rasulullah SAW Mengelola Kemajemukan Tanpa Ada yang Ditinggalkan
- Hati-Hati Ada yang Ingin Pecah-Belah Umat Islam
- Nasaruddin Umar: Mahasiswa Harus Jadi Creative Minority
- Menag: Pencegahan Miras Jangan Terpaku Aturan Formal
- Nasaruddin Umar : Pembinaan Umat Diorientasikan Menuju Kemandirian
- Suryadharma Ali: Ajak Momentum Hijrah Untuk Menuju Kehidupan yang Lebih Baik
- Wakil Kemenag: Kemenag Kembangkan Kawasan Bina Kerukunan
- Wakil Menteri Agama Akan Gunakan Pendekatan Komprehensif
- Radikalisasi Marak Karena Remaja Enggan Mengaji Al Quran
- Tambahan Kuota Haji 2012
- Puncak Ibadah Haji 1432 H
- Menag Setuju Pendoktrin Dihukum Berat
- Lapan Terbitkan Buku Astronomi tentang Kalender Hijriah
- Halal bi Halal Kemnakertrans
- Bahrul Hayat: Pemerintah Tetapkan Besaran BPIH 2011 dan Waktu Pelunasan
- Seminar 1/2 Hari "Membangun Entreurpreneur Muslim"
- Awal Ramadhan Diperkirakan Tidak Berbeda
- Suryadharma Ali: Da`i Agar Sampaikan Islam Rahmatan Lil Alamin
- Suryadharma Ali: Tidak Fair Menuding Pesantren Basis Gerakan Radikal
- Suryadharma Alie: "NII Harus Dibasmi"
- Menag: Pelajaran Agama Perlu Ditambah di Sekolah dan Perguruan Tinggi
- Pelatihan Dakwah di Dunia Cyber
- Ketua PBNU: Radikalisme Tak Mungkin Dihadapi Secara Parsial











