Cendekiawan Indonesia di AS Luncurkan Buku Bertema Kebangkitan Nasional

Addthis

New York-Berawal dari diskusi kecil antara Konjen RI New York Trie Edi Mulyani dengan Indriyo Sukmono, pengajar mata kuliah Bahasa Indonesia di Yale University, mengenai sumbangsih para cendekiawan Indonesia di wilayah Pantai Timur AS kepada tanah airnya.  Muncul gagasan untuk menuangkan ide dan pemikiran para cendekiawan Indonesia tersebut dalam bentuk buku berisi kumpulan tulisan. Akhirnya, sekitar 25 orang akademisi Indonesia bergabung untuk menyusun buku bertajuk ”NUANSA EAST COAST: Pemikiran dan Catatan Kampus Cendekiawan Indonesia di Pantai Timur AS”.

Buku itu sendiri diluncurkan secara resmi dalam sebuah seminar pada hari Sabtu sore (22/5) di Kantor KJRI New York. Acara ini sekaligus menjadi rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2010 ke-102.

Sejumlah penulis yang menyumbangkan hasil karyanya berasal dari beberapa kampus ternama, seperti Indriyo Sukmono (Yale University), Prof. Sumarsam (Wesleyan University), Prof. Bambang Parmanto dan Rachmadian Wulandana Ph.D (Pittsburgh University), Dwi Susanto Ph.D dan John Ryadi (Columbia University), Iis Tussyadiah Ph.D. (Temple University), Dr. Entin Karjadi (Delaware University), Aryo Danusiri (kandidat doktor Harvard University), dan Yulianto Mohsin (kandidat doktor Cornell University).

Tiga orang yang juga menjadi pembicara seminar Andri Akbar Marthen (Pace University School of Law), Yudhiakto Pramudya (Wesleyan University), dan Hanny Pongoh (Hartford University) juga turut menyumbangkan tulisannya dalam buku tersebut.

Dalam seminar yang dimoderatori oleh Indriyo Sukmono (Yale University), muncul beberapa pemikiran terkait dengan ide ’kebangkitan nasional.  Para pembicara mengangkat tokoh nasional lulusan luar negeri, seperti Prof Mochtar Kusumaatmadja dan Sultan Hamengkubuwono IX, sebagai contoh nyata bagaimana hasil pendidikan dan pengalaman tinggal di luar Indonesia tidak serta merta menjadikan rasa nasionalisme mereka luntur.

Prof Mochtar Kusumaatmadja menghasilkan karya-karya besar di bidang hukum internasional yang mengharumkan nama Indonesia. Sementara Sri Sultan adalah tokoh yang meski bersekolah di luar negeri tetap tidak luntur nilai-nilai budaya dan ke-Indonesiaannya.  Kedua tokoh ini menjadi panutan.

KJRI New York berharap, melalui kegiatan ini dapat terbina dan terjalin jejaring dengan para cendekiawan Indonesia di Pantai Timur AS. Jejaring ini dapat diberdayakan dan berkontribusi bagi pembangunan dan kejayaan bangsa di era kebangkitan nasional yang kini memasuki abad kedua.

Pantai Timur AS merupakan tempat berdirinya perguruan-perguruan tinggi ternama yang sering dikatakan sebagai Ivy League.  Sebut saja misalnya Yale University, Harvard University, Columbia University, Cornell University, Princeton University, dan MIT, serta universitas-universitas besar lainnya seperti Wesleyan University, Pittsburgh University, Temple University, dan Tuft University.

Di universitas-universitas tersebut terdapat sejumlah akademisi Indonesia yang menjadi pengajar dan peneliti. Banyak pula mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya, baik tingkat doktor, master atau sarjana di sana. (sumber: KJRI NY) dpl



Add comment


Security code
Refresh

Mancanegara