Dakwah dan Pemberdayaan Umat, oleh Ustadz M. Yunan Yusuf.
Dakwah, sebagaimana yang dipahami, adalah ajakan atau seruan untuk menciptakan suasana damai dan tentram serta penuh kesejukan. Ia merupakan ajakan untuk memahami, menghayati, dan melaksanakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Dalam bukunya, Tadzkirat al-Dua'at, Bahi al-Khuli menjelaskan bahwa pengertian dakwah yaitu "upaya memindahkan manusia dari satu situasi kepada situasi yang lebih baik." Pengertian tersebut tentu sangat relevan dengan kondisi kita saat ini. Kondisi kerusuhan, mudah tersinggung, gampang terprovokasi, haruslah dirubah menjadi kondisi yang penuh dengan keramahan, rendah hati, dan rahmatan lil alamin.
Pengertian di atas dikembangkan lebih lanjut oleh Ali Mahfudz bahwasanya dakwah itu "mendorong manusia kepada kebaikan dan petunjuk, menyuruh mereka berbuat yang ma'ruf, dan mencegah mereka dari berbuat yang munkar, agar mereka mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat".
Inti dakwah memang pada pengertian mengajak manusia untuk berbuat kebajikan dan menghindarkan diri dari keburukan. Ajakan tersebut dilakukan dengan cara yang lemah lembut dan menyejukkan, dengan tujuan tegaknya agama Islam dan berjalannya sistem Islam dalam kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat. Atau dengan kata lain, dakwah sebenarnya bertujuan untuk menghidupkan atau memberdayakan, sehingga masyarakat memperoleh momentum untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan, serta menimbulkan suasana yang kondusif bagi tegaknya nilai-nilai agama. Hal inilah yang ditegaskan oleh Allah dalam kitab suci al-Qur'an surat al-Anfal ayat 24:
"Wahai orang yang beriman, perkenankanlah seruan Allah dan Rasul-Nya, apabila Ia menyeru kamu kepada apa-apa yang menghidupkan (ruhani dan jasmani) kamu …!"
Dakwah, kalau demikian, pada hakekatnya adalah panggilan Allah dan Rasul-Nya, panggilan yang membawa kepada upaya untuk menghidupkan, atau dengan kata lain panggilan untuk memberdayakan. "Bukan panggilan yang merugikanmu, tetapi panggilan kepada kehidupanmu lahir dan batin, maju setingkat demi setingkat menuju kemenangan dan kejayaan."
Dalam kerangka seperti itu, dakwah mempunyai dua dimensi pokok yakni al-amr bi al-ma'ruf (menyuruh berbuat kebaikan) dan al-nahyu 'an al-munkar (mencegah dari perbuatan munkar). Kedua dimensi pokok ini bisa muncul secara simultan atau bisa juga dilaksanakan secara berbeda. Pada satu ketika melaksanakan amar ma'ruf, sementara waktu yang lain nahyi munkar.
Bila kita ingin melakukan proses pemberdayaan umat melalui dakwah Islam, maka sekurang-kurangnya ada lima langkah issue dakwah yang harus diambil, yaitu: Pertama, materi dakwah sebagai ajakan atau seruan kepada Islam dan petunjuk Allah harus dikemas secara sistemik dalam pemahaman setiap individu dan masyarakat muslim. Pemahaman sistemik ini dapat dibangun melalui penghayatan dan pengamalan ajaran Islam secara holistik dan komprehensif dari berbagai aspek ajaran Islam yang mencakup aspek aqidah, aspek ibadah, aspek akhlak, dan aspek mu'amalah. Selama ini pemahaman tentang berbagai aspek ajaran Islam tersebut ditangkap secara parsial dan terpilah-pilah, tidak utuh.
Secara sistemik keempat dimensi ajaran tersebut seharusnya merupakan kesatuan dan kebulatan utuh, yang terpisahkan hanya dalam tataran diskursus akademik, bukan dalam tataran praktis. Oleh sebab itu, adalah suatu kezaliman bila seseorang berbuat semata-mata hanya atas perimbangan halal dan haram dengan mengabaikan sama sekali aspek al-husn (kebaikan) dan aspek al-qubh (keburukan), atau menyingkirkan sama sekali sisi al-mahmudah (terpuji) dan al-mazmumah (tercela).
Adalah suatu kenyataan bahwa tema-tema dakwah selama ini dikemas hanya dalam pendekatan parsial, tidak menyeluruh dan tidak sistemik. Hal ini akan berakibat timbulnya pemahaman keagamaan yang tidak mampu membangun kaitan dan sinergi antara aqidah, ibadah, akhlak, dan mu'amalah. Aqidah umat memang terlihat sudah bertauhid, tetapi akhlaknya belum mencerminkan akhlak Islam. Ibadah umat memang sudah terlihat taat dan tertib, tetapi mua'amalahnya belum mengindahkan prinsip-prinsip muamalah yang diajarkan oleh Islam.
Kedua, karena dakwah pada hakikatnya adalah proses yang menghidupkan atau yang memberdayakan, baik terhadap individu maupun masyarakat, maka harus ada upaya untuk melakukan itu. Di era otonomi daerah seperti sekarang ini, dakwah harus ditujukan kepada upaya untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat secara bersama. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui upaya-upaya menumbuhkan kreatifitas untuk meningkatkan taraf hidup, baik secara individu maupun keluarga, atau secara bersama-sama.
Inilah yang disebut dengan konsep dakwah bil hal, melalui pengembangan industri kecil dan menengah, yang dalam pertumbuhan konkritnya ditunjukkan dengan pengembangan Baitul Mal wat Tamwil di sentra-sentra kegiatan pengajian dan majlis taklim. Di samping itu, juga melalui penumbuhan gerakan menyimpan dan menabung secara massal, yang produktifitasnya ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup tersebut.
Ketiga, merumuskan materi dakwah yang berkaitan dengan ajakan dan dorongan kepada masyarakat agar berpartisipasi dalam proses pembangunan daerah dan menggali potensi daerah sendiri untuk sebesar-besar kemakmuran masyarakat daerah tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di daerah, di samping memperbesar potensi daerah tersebut untuk mengembangkan diri, yang kemudian diharapkan bisa mengatasi problema yang selalu timbul dalam bentuk kerentanan hubungan antar etnis, polemik pencuatan issu putera daerah, dan sebagainya.
Peningkatan kualitas SDM menjadi sangat strategis dikemas dalam tema-tema dakwah bila dikaitkan dengan tentangan ke depan, di mana bangsa kita akan memasuki era pasar bebas di kawasan ASEAN, yang waktunya tidak lama lagi akan kita masuki.
Keempat, dakwah tampil dengan wajah sejuk dan damai dengan melalui penekanan peningkatan kualitas akhlak mulia yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Secara esensial dakwah semestinya muncul dengan pendekatan mengajak, bukan menghakimi, apalagi bernuansa provokatif. Tema-tema yang berkaitan dengan ukhuwah Islamiyah atau kesetiakawanan sosial haruslah menjadi agenda utama. Amar makruf dan Nahyi Munkar sebagai bagian esensial dakwah perlu ditampilkan secara ramah dan menyejukkan.
Dengan demikian, esensi dari diturunkannya Islam melalui pengutusan Rasulullah Saw. untuk menciptakan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) bukan berhenti pada slogan. Ia haruslah terwujud dalam kenyataan. Dengan kemasan dakwah seperti itu, berbagai problema yang timbul di tengah masyarakat dapat diatasi dengan pendekatan persuasif dan penuh kedamaian.
Kelima, di atas semuanya itu, dakwah juga harus berbicara tentang tema memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Kesadaran akan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia harus selalu disegar-bugarkan, harus ditumbuh-suburkan secara terus menerus. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa peletak dasar dari berdirinya Republik ini pada hakekatnya berdiri di atas kesadaran tersebut.
Pengalaman masa lampau dengan kesan penganaktirian daerah, haruslah punah. Nasionalisme kita dalam berbangsa dan bernegara harus selalu tertanam dalam kesadaran setiap generasi, terlebih-lebih para generasi muda sebagai generasi pelanjut. Walaupun bukan hadis, pernyataan tentang Hubbul wathan minal iman (Mencintai tanah air adalah sebagian dari iman) tidaklah salah untuk tetap dikobarkan. Karena, secara taklifi orang yang mati dalam mempertahankan haknya dipandang syahid. Tanah air adalah hak kita bersama sebagai warga negara, yang tidak boleh tergadai kepada bangsa lain. Bârakallâhu lî wa lakum.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Khutbah
- Spritualitas Tahun Baru Islam 1433 Hijriyah
- Kedudukan Harta Menurut Syariat Islam
- Ustadz Hamdani Anwar, Hikmah Memahami Persamaan dan Perbedaan Dalam Kehidupan
- Dakwah dan Pemberdayaan Umat, oleh Ustadz M. Yunan Yusuf.
- Kaidah Islam Dalam Menempuh Jalan Kejujuran dan Keharusan Adil Dalam Menetapkan Hukum
- Mahalnya Harga Hidayah, oleh Ustadz Fathuddin Jakfar
- Meneladani Sifat-Sifat Mulia Rasulullah Saw, oleh; Ust. Mufti Abdul Wakil, S.Pd.I
- Sepercik Keteladanan Rasulullah SAW, Oleh : H. Choliluddin As, MA
- Mengembalikan Keindahan Islam dengan Berjamaah di Masjid
- Intisari Khutbah Jum'at "Membangun Rumah di Surga" (bag. 1) oleh Fathuddin Jafar
- Qurban: Prasarat Kesuksesan dan Kemenangan
- Menteladani Kepemimpinan dan Pengorbanan Nabi Ibrahim AS
- Membangun Kembali Semangat Berqurban













