Spritualitas Tahun Baru Islam 1433 Hijriyah
Intisari Khutbah. Baru saja kita memasuki bulan Muharram, bulan yang mengawali tahun baru hijriyah kita untuk tahun 1433 H. Bulan yang tiba-tiba menghentak batin kita untuk segera mengenang peristiwa besar dalam sejarah, yaitu peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW. dari kota Makkah menuju kota Madinah. Setiap awal tahun hijriyah seperti ini kita seharusnya sebagai umat Islam segera membangun semangat baru untuk meningkatkan ketakwaan dalam diri kita. Muharram secara bahasa berasal dari kata harama-yahrumu yang berarti mencegah atau melarang. Muharram sendiri bermakna dilarang atau diharamkan. Allah SWT menyebut bulan ini dalam Alquran di antara empat bulan yang dimuliakan.
Sebagaimana firman-Nya:
''Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan. Dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan, perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.'' (QS Attaubah [9]: 36).
Para ulama mengemukakan, maksud dari ayat ini adalah Allah SWT melarang terjadinya peperangan dan hal sejenisnya yang termasuk kategori perang lantaran kemuliaan bulan ini. Larangan di sini adalah sebagai penekanan betapa Muharram adalah bulan yang mulia dan merupakan syahrullah (bulan Allah).
Jamaah rohimakumullah,
Bertambahnya usia menandakan bertambahnya kemantapan dan kedewasaan sikap. Dengan beralihnya tahun, berarti spirit untuk memulai lembaran baru menuju langkah-langkah yang penuh optimistis dan rencana-rencana mantap mulai kian digelorakan. Jangan sampai tahun baru hanya sebagai euforia tanpa makna. Apalagi, di tengah gegap-gempitanya dunia yang sedang morat-marit akibat krisis global. Apa yang menarik dari setiap kita memasuki tahun baru adalah munculnya kesadaran baru dalam diri kita. Kesadaran akan beberapa hal :
Pertama, kesadaran bahwa diakui atau tidak usia kita telah berkurang. Sementara tabungan pahala untuk simpanan di akhirat masih sangat tipis, dibanding nikmat-nikmat Allah yang setiap detik selalu mengalir. Kita masih saja lebih banyak sibuk untuk urusan dunia dari pada mencari bekal untuk akhirat. Dengan datangnya tahun baru ini, semoga semangat untuk membangun kampung tempat tinggal kita di akhirat lebih kuat dari semangat untuk membangun kemegahan dunia.
Kedua, pada tanggal 1 Muharram kita menyaksikan suatu perubahan waktu yang ditandai oleh pergeseran alam, yaitu munculnya bulan sabit tahun baru di ufuk barat. Dari sini kita menyaksikan diri kita berjalan seirama dengan perjalanan segala wujud di alam ini. Allah SWT yang menciptakan semua mahluk, selalu mengajarkan kita agar senantiasa memperhatikan kebesaraNya dengan menyaksikan ketaraturan/keseimbangan dan kerapian ciptaanNya di alam semesta ini. Untuk itu kita diajarkan pula agar dalam menjalani ibadah kepadaNya selalu memperhatikan waktu-waktu tertentu yang sejalan dengan perputaran tata surya.
Dalam menjalani shalat misalnya, Allah mengaskan dalam Al-Qur'an agar ditegakkan pada waktu-waktu tertentu (QS. Al-Nisa: 103). yang artinya:
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
Dan kita telah tahu bahwa waktu shalat Dzuhur setelah tergelincir matahari, shalat maghrib, setelah terbenam matahari, shalat subuh setelah terbit fajar dan lain sebagainya. Dalam menjalani puasa Ramadlan, kita juga diajarakan oleh Rasulullah SAW agar memulainya setelah melihat bulan tanggal satu Ramadlan, dan mengakhirinya pun setelah melihat bulan akhir Ramadhan. (HR, Imam Muslim). Ibadah hajipun Allah mengajarkan agar dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu,(QS. Al-Baqarah: 197) Syawal, Dzulqa'dah dan dzulhijjah.
Semuanya itu sungguh menunjukkan betapa eratnya aktifitas ibadah kita dengan aktifitas alam. Dari sini terlihat dengan jelas betapa mengikuti tahun hijriyah akan lebih mengakrabkan kita dengan alam, dan otomatis akan lebih mendekatkan kita kepada Allah Sang Pencipta Yang Maha Kuasa.
Ketiga, bahwa tahun hijriyah berjalan seirama dengan perjalanan sejarah Rasulullah SAW. Sungguh banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam yang hanya terekam dalam bulan-bulan hijriyah. Seperti awal turunnya Al-Qur'an, titik permulaan hijrah, tanggal kemenangan dalam perang Badar dan lain sebagainya. Hari-hari besar Islam, seperti hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, sangat terkait dengan penanggalan hijriyah ini.
Dari sini kita akan lebih banyak belajar pada sejarah untuk membangun masa depan kita. Dalam arti kata lain kita akan menjadi pribadi yang pandai membangun masa depan dengan adanya landasan masa lampau yang kokoh dan benar. Dan dengan langkah ini kita tidak akan mengulang kesalahan dan kegagalan-kegagalan masa lalu. Sebagaimana yang tersebut dalam sebuah riwayat: "Seorang mu'min tidak akan pernah terjerumus dalam jurang yang sama dua kali". ( HR Muslim) Dengan demikian, adalah kesadaran yang benar jika dalam permualaan tahun baru hijriyah ini, kita umat Islam membangun tekad baru, untuk meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah, Karena hanya dari tekad inilah segala krisis yang pernah kita lalui pada tahun-tahun sebelumnya akan bisa diatasi.
Jammaah Rohimakumullah
Menguatkan keimanan, membina moralitas, menolong kaum mustada'fiin (kaum yang lemah) adalah sekelumit contoh dari permasalahan umat yang lebih prioritas. Lebih lanjut, Muharram adalah momentum untuk meningkatkan etos/semangat diri, baik ukhrawi maupun duniawi. Berbenah diri dari kesalahan guna menyongsong hari esok yang lebih baik. Sebab, itulah hakikat hidup.
Selamat memulai tahun baru hijriyah dan selamat membangun masa depan umat ini dengan ketakwaan yang hakiki. Amin
Ibnu Syirin SS
| Berikutnya > |
|---|













