Kunjungan (muhibah) ke saudara muslem serumpun Melayu di Singapura dan Malaysia

Muhibah

Addthis

Singapura, 18-20 Agustus 2009. Bismillaahirrahmaanirrahiem, keinginan untuk bersilaturahiem ke Saudara muslim serumpun (Melayu) yang sudah lama dicita-citakan itu akhirnya terkabul juga. Semuanya itu dapat terwujud berkat rahmat Allah SWT dan bantuan dari berbagai pihak termasuk teman dan sahabat terdekat. Telah lama menjadi pertanyaan besar kenapa 2 negara dengan luas yang tidak lebih dari Pulau Jawa dan jumlah penduduknya tidak lebih dari .. juta jiwa tetapi tingkat pendapatan perkapita dan kemakmuran rakyatnya jauh di atas rakyat Indonesia yang memiliki luas wilayah 10 kali lipat dan penduduknya lebih dari 200 juta, tetapi masih banyak rakyat yang miskin dan tingkat kesejahteraannya jauh lebih rendah.

Pertanyaan serupa juga dilontarkan salah satu pengusaha di Malaysia : “negeri tuan itu kan kaya raya”, katanya : “kekayaan alamnya melimpah ruah, hasil tambangnya (minyak bumi, emas,  perak, dll) begitu melimpah, buminya sangat subur, semua jenis tanaman pangan,dan papan dengan mudah dapat tumbuh dan mudah dibudidayakan, tetapi kenapa sudah lebih dari 64 tahun merdeka rakyat anda masih tetap miskin?”. Si pengusaha ini sambil bergurau dan berkata : maukah kita tukar guling saja, seluruh warga kami pindah ke Pulau Jawa untuk mengelola kekayaan alam di negeri anda dan seluruh warga anda yang ada di Pulau Jawa pindah ke negeri kami dan silahkan kelola dan olah hasil kekayaan di negeri kami, dan dalam sekian tahun siapa yang akan bertambah makmur, bangsa kami atau bangsa anda?. Sebuah pertanyaan yang perlu perenungan dan tidak mudah untuk menjawabnya.

Penulis tertegun, lemas dan galau atas pertanyaan itu, siapa yang dapat mengurai benang kusus atas carut marutnya kehidupan di negeri ini. Bukankan cita-cita kemerdekaan dan semangat patriotisme sejak dulu sudah sering kita dengungkan : “BANGUNLAH JIWANYA BANGUNLAH BADANNYA UNTUK INDONESIA RAYA, INDONESIA RAYA MERDEKA MERDEKA TANAHKU NEGERIKU YANG KUCINTA, INDONESIA RAYA MERDEKA MERDEKA HIDUPLAH INDONESIA RAYA”. Semangat cinta tanah air itu seharusnya dapat menjadi MODAL DASAR dan MOTOR PENGGERAK untuk membangun negeri ini. Siapapun orangnya, apapun agamanya dan dari manapun partainya asal nawaitunya (niatnya)  adalah semangat untuk membangun negaranya, mencintai bangsanya, dan mencintai tanah airnya, maka hasil buah karyanya, ilmunya, ucapannya, dan goresan-goresan penanya itu PASTI yang terbaik yang akan diberikan kepada rakyat, bangsa dan negaranya. Tetapi manakala niatnya sudah tidak lurus dalam membangun negeri ini, maka sumber mala petaka akan terus menerus menjadi hantu di negeri ini.  Salah satu penyakit yang mungkin sudah mencapai stadium empat di negeri ini adalah penyakit AJI MUMPUNG (Bhs. Jawa red). Mumpung sedang berkuasa, mumpung sedang menjadi wakil rakyat, dan mumpung-mumpung lainnya. Kata aji mumpung ini sebetulnya mempunyai dua makna, yang pertama yang berkonotasi negatif, seperti mumpung berkuasa maka seseorang akan mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya terlepas apakah benar cara memperolehnya, ini yang sangat-sangat berbahaya. Sedangkan makna aji mumpung yang berkonotasi positif adalah SIKAP SEGERA, seperti mumpung sedang berkuasa maka segera berikan pelayanan yang terbaik bagi rakyat, segera lakukan perbaikan untuk hal-hal yang perlu diperbaiki, segera lakukan perbakan infrastruktur sekiranya memang infrastruktur itu perlu diperbaiki, segera wujudkan pemerintahan yang baik (good governance) sebagaimana tuntutan masyarakat, agar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dapat segera terwujud, dsb. Jangan suka minta mengulur waktu : “ah nanti kalau saya terpilih lagi maka saya akan melakukan ini dan itu, dst”, padahal selama waktu  yang diberikan orang itu hanya jalan di tempat dan duduk berpangku tangan saja.  Kata SEGERA (wa saari’uu) sepertinya dapat menjadi obat luka (terapi psikologis) yang teramat manjur bagi bangsa yang sedang dilanda penyakit kronis ini. Di dalam al Qur’an kata SEGERA terdapat dalam surah Ali Imran ayat 133 :

 “Dan  bersegeralah kepada ampunan Allah, dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Gambaran surga sebagaimana diamanatkan dalam al Qur’an tersebut adalah merupakan potret  kehidupan yang dliputi oleh rasa kebahagian, kesejahteraan dan kedamaian yang menjadi dambaan bagi setiap orang saat dia telah sampai di terminal akhir kehidupan, yaitu pada saat ia menghadapkan wajahnya dihadapan Sang Pemberi Rasa Kebahagiaan, Kesejahteraan, dan Kedamaian (Allah SWT). Untuk mencapai tempat (makom) tu maka kepada setiap muslem diperintahkan untuk bertaqwa  kepada Allah SWT dengan ketaqwaan yang paripurna  (QS. Ali Imran : 102), nah kalau manusia di dunia ini juga ingin hidupnya bahagia, sejahtera, dan diliputi kedamaian, maka tidak ada cara lain kecuali SEGERA lakukan hal-hal yang musti dilakukan dan jangan ditunda-tunda lagi. Hidup ini senantiasa berpacu dengan waktu. Kesempatan emas itu sekarang milik dan berada di tangan anda, menunda-nunda waktu untuk berbuat kebajikan adalah kerugian yang teramat besar.  Segera singsingkan lengan baju anda, kobarkan semangat bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja dengan ikhlas untuk membangun negeri ini, agar martabat  bangsa dan negara tetap terhormat  serta rakyat merasa bangga menjadi bagian dari anak negeri dan bisa hidup makmur di negeri sendiri, sebagai wujud baktinya kepada ibu pertiwi.   Bagian pertama / Artkel bersambung (Red/Ibn S/09/09)

Add comment


Security code
Refresh