Praktek Taqwa “Islam Itu Indah”
Suatu saat ada sekelompok pemuda yang mendaki gunung dan di tengah perjalanan diketemukan tanaman hutan yang bunga dan tangkainya indah menawan yang belum pernah di lihat sebelumnya. Pesona keindahan tersebut yang mengundang penasaran seluruh rombongan untuk melihat, menyentuh dan memperhatikan keelokan bungan tersebut dan sesekali mencium aroma wanginya yang harum dan semerbak. Ada beberapa orang yang ingin bertekat untuk memelihara dan menjaga bunga tersebut agar tetap hidup dan lestari di alam yang penuh pesona, namun ada juga yang ingin segera memetiknya untuk dibawa pulang. Karena keisengan orang-orang dalam rombongan tersebut maka bunga tersebut akhirnya layu dan rusak sehingga tidak bisa dinikmati oleh orang-orang yang ingin melihatnya dikemudian hari.
WAJAH SURAM PENDIDIKAN INDONESIA
Setiap tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional dan potret pendidikan Indonesia yang semakin lama semakin tidak jelas, selalu menjadi bahan pemikiran semua kalangan. Baik Pemerintah, Swasta maupun para teknokrat, yang sedikit banyak andil dalam pembenahan infra dan supra struktur pendidikan bangsa kita. Hal ini ditunjukkan oleh kualitas pendidikan yang setiap tahun mengalami penurunan. Ditambah lagi dengan kuantitas yang ikut menurun. Belum lagi alokasi anggaran dari pemerintah yang tidak pernah menjadikan pendidikan sebagai prioritas.
Tentunya begitu banyak hal yang menghambat perkembangan pendidikan di Indonesia. Selain kurangnya perhatian pemerintah, fasilitas yang tidak memadai, juga minimnya tingkat keseriusan dari stake holder pendidikan itu sendiri. Seperti para Guru, Orang Tua dan siswa itu sendiri. Artinya perlu komunikasi yang baik antara semua elemen. Tidak hanya diprioritaskan oleh pemerintah, tetapi juga harus didukung oleh kesadaran kolektif elemen pembangunnya.

Suatu saat penulis sedang membeli sesuatu di pinggir toko di daerah Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur tiba-tiba ada seorang pemuda berkendaraan motor bertanya “Pak mohon maaf saya tersesat jalan dan mau nanya kalau mau ke Komplek Duta Bekasi lewat mana ya”. Kemudian sedikit penulis berikan petunjuk namun pemuda tersebut masih kurang faham juga, akhirnya penulis menawarkan “Ya sudah bareng dan ikuti saya saja, saya juga mau ke arah sana!”. Dia bilang “terima kasih pak saya akan dibelakang bapak.” Begitu sudah sampai jalan utama kemudian penulis berhentis ejenak dan mempersilahkan pemuda tersebut untuk mengikuti jalan lurus kearah timur setelah melewati Maal Pondok Gede Bekasi sementara itu penulis mengambil arah lain menuju rumah.











