Makna Lain Maulid Nabi

Addthis

Seorang santri tengah dirundung risau. Belum lama ini, ia menerima fatwa -yang bersumber dari sebuah hadis- yang intinya melarang umat Islam untuk berperilaku menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka ia pernah berpaham bahwa merayakan tahun baru bukanlah perilaku islami. Bukankah itu merupakan kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani? Namun kemudian ia sungguh terkejut. Karena belakangan tahun baru Hijriah banyak dirayakan oleh umat Islam di Indonesia. Tidak cukup berkumpul di sebuah majelis. Mereka bahkan berpawai, umumnya malam hari, sambil membawa obor. Anak-anak dan orang dewasa berjalan beriring. Sesekali ditingkah pekikan “Allahu Akbar”.

Kini tak banyak yang merisaukan soal itu. Perayaan tahun baru Hijriah, yang diidentikkan dengan Tahun Baru Islam, sudah merupakan sebuah perilaku Islami yang asli seasli-aslinya tanpa pengaruh dari unsur manapun, termasuk Yahudi dan Nasrani.

Namun memasuki bulan kelahiran Rasulullah, kegelisahan Sang Santri meradang kembali. Mengapa kita mesti merayakan hari kelahiran Rasulullah; padahal Rasulullah dengan berbagai cara selalu menghindarkan umatnya dari segala perilaku yang menjurus pada sebuah pengkultusan yang berlebihan. “Jangan sampai kita terjerumus seperti penghormatan orang-orang Kristen,” begitu kata Sang Santri, “sehingga mendaulatkan Rasulnya menjadi Tuhan”. “Astaghfirullah, jauhkanlah hamba dari perbuatan dosa paling keji itu, ya Allah,” kata Sang Santri suatu ketika.

“Saya paham bahwa kita harus talzim kepada Rasulullah. Tapi pasti tidak boleh bertakzim dengan cara pengagungan fisikal yang berlebihan. Bukankah penghormatan tertinggi itu apabila kita menjalankan segala titahnya, dan meninggalkan segala yang larangannya –tentu saja tepatnya adalah segala titahNya dan segala laranganNya.”

Suatu ketika, guru Sang Santri dapat membaca kerisauan muridnya. Lantas beliau juga bertutur, sambil tak habis-habisnya memuji pandangan muridnya itu. Namun beliau juga mengajak merenung lebih jauh.

“Bagi kita penganut mazhab Suni, memang hampir tidak mengenal segala seremoni perayaan Maulid Nabi,” kata Sang Guru. “Tapi bagi saudara kita yang menganut mazhab Syiah, seremoni Maulid Nabi itu amat dibesar-besarkan.”

Di negara lain, dua pandangan itu berhadapan secara konfrontatif. Dua-duanya kerap saling serang, saling tuding bahwa pihak lainnya menjalankan sebuah bid’ah (hal mengada-ada yang tidak disyariatkan).

Di negara kita, kedua mazhab itu menelusup secara halus ke dalam peri-kehidupan umat Islam. Pada awalnya, penganut mazhab Suni tidak terlalu membesarkan seremoni Maulid Nabi. Namun anehnya malah membiasakan diri untuk manakib (membacakan riwayat hidup Syeh Abdulqadir Jaelani).

Teguran itu amat menusuk kalbu. Akhirnya, para penganut Suni pun melazimkan membaca manakib Rasulullah, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh penganut Syiah.

“Jadi, seremoni Maulid Nabi di negeri kita itu, ternyata telah mengasah kekuatan toleransi antara penganut mazhab yang berbeda di negeri ini. Sebuah fenomena yang tidak mudah terjadi di negera lain,” kata Sang Guru.

“Tentang tidak boleh menyerupai Yahudi dan Nasrani, ya Guru?”

“Tenanglah anakku. Itu lebih ditekankan pada peringatan, jangan sampai kita mengingkari Allah, setelah kita mengimaniNya –seperti yang dilakukan oleh penganut-penganut Yahudi dan Nasrani pada masa lalu.” [Djuhendi Tadjudin]


Add comment


Security code
Refresh