Musibah dan Bencana Menuntun Manusia Agar Kembali ke Jalan yang Benar oleh Ibnu Syirin SS

Addthis

Suatu saat penulis sedang membeli sesuatu di pinggir toko di daerah Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur tiba-tiba ada seorang pemuda berkendaraan motor bertanya “Pak mohon maaf saya tersesat jalan dan mau nanya kalau mau ke Komplek Duta Bekasi lewat mana ya”. Kemudian sedikit penulis berikan petunjuk namun pemuda tersebut masih kurang faham juga, akhirnya penulis menawarkan “Ya sudah bareng dan ikuti saya saja, saya juga mau ke arah sana!”. Dia bilang “terima kasih pak saya akan dibelakang bapak.”  Begitu sudah sampai jalan utama kemudian penulis berhentis ejenak  dan mempersilahkan pemuda tersebut untuk mengikuti jalan lurus kearah timur setelah melewati Maal Pondok Gede Bekasi sementara itu penulis mengambil arah lain menuju rumah.

Itulah gambaran orang yang sedang tersesat, dia bingung dan tidak tau arah mau kemana. Ini hanya gambaran kecil tapi memiliki hikmah yang sangat besar. Di akhir zaman seperti sekarang ini betapa banyak orang yang tersesat, bingung dan tidak tahu arah mengenai kehidupannya, dimana dia hidup, untuk apa dia hidup, bagaimana dia harus hidup, dan mau kemana setalah dia meninggalkan dunia yang fana ini? Dia hidup sesuka hatinya, merusak alam dengan seenaknya.  

Pertanyaannya adalah "dapatkah dalam kesendiriannya itu manusia akan bisa sampai ke tujuan yang diinginkan seandainya tidak ada yang memberikan arah/petunjuk dalam menjalani kehidupannya?. Allah SWT sangat memahami akan kelebihan dan kekurangan yang ada pada manusia, oleh karenanya Dia mengutus para Nabi dan Rasul agar dapat membimbing umatnya kepada jalan yang benar sehingga manusia akan dapat menjalani kehidupan dan sampai ke terminal akhir dengan selamat.

Nabi dan Rasul kini sudah tiada dan Muhammad SAW adalah penutup para Nabi dan Rasul pembawa risalah kebenaran dengan berpedoman kepada wahyu yang terhimpun dalam satu kitab yaitu Al-Qur’an dan Sunnah-sunnahnya. Barang siapa senantiasa berpedoman kepada keduanya maka dia tidak akan tersesat. Setelah Rasulullah wafat maka seruan dan ajakan dilanjutkan oleh para Shahabat dan generasi berikutnya dan seterusnya hingga sampai kepada para ulama saat ini. Para alim ulama, ustadz, kyai  dan para penyeru lainnya hanyalah manusia biasa sangatlah mempunyai keterbatasan baik akal, tenaga dan fikiran dan kemampuannya dalam menyeru manusia kepada jalan yang benar sesuai kehendak Tuhannya, oleh karenanya kerusakan akhlak moral hampir terjadi di setiap lini kehidupan baik kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Bumi telah demikian lelah  dan barangkali muak melihat ulah tangan-tangan manusia yang senantiasa berperilaku durjana dan senantiasa melumuri hidupnya dengan dosa-dosa. Peringatan dari para alim ulama seakan-akan sudah tidak ada yang mau mengikutinya. Pada saat yang demikian tentunya Allah SWT yang memiliki dan menguasai seluruh alam jagad raya ini tidak tinggal diam. Dia masih ingin manusia yang hidup di planet bumi ini kembali kepada jalan yang benar. Bila nasehat secara halus melalui penyeru-Nya sudah tidak yang mau mendengar, maka saat ini Allah berikan teguran itu secara langsung melalui musibah dan bencana yang hampir  terjadi setiap saat. Allah SWT kini langsung membimbing kita dengan kasih sayangnya walaupun kadang-kadang keras dalam peringatan-Nya.  

Inilah kelebihan dan berkahnya umat Muhammad SAW, karena sang Nabi tidak ingin dan tidak rela ada satu orangpun diantara umatnya yang terlempar dan terhempas di api neraka, sehingga Allah-pun masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertaubat dan memperbaiki perilakunya. Semoga musibah demi musibah dapat menyadarkan kita untuk segera kembali kepada jalan yang benar, amin. Ibnu Syirin SS


Add comment


Security code
Refresh