Praktek Taqwa “Islam Itu Indah”

Addthis

Suatu saat ada sekelompok pemuda yang mendaki gunung dan di tengah perjalanan diketemukan tanaman hutan yang bunga dan tangkainya indah menawan yang belum pernah di lihat sebelumnya. Pesona keindahan tersebut yang mengundang penasaran seluruh rombongan untuk melihat, menyentuh dan memperhatikan keelokan bungan tersebut dan sesekali mencium aroma wanginya yang harum dan semerbak. Ada beberapa orang yang ingin bertekat untuk memelihara dan menjaga bunga tersebut agar tetap hidup dan lestari di alam yang penuh pesona, namun ada juga yang ingin segera memetiknya untuk dibawa pulang. Karena keisengan orang-orang dalam rombongan tersebut maka bunga tersebut akhirnya layu dan rusak sehingga tidak bisa dinikmati oleh orang-orang yang ingin melihatnya dikemudian hari.

Itulah gambaran wajah Islam saat ini, karena ulah beberapa orang saja, maka keindahan Islam yang demikian agung dan pernah jaya hampir tujuh abad tersebut, saat ini tengah tercoreng karena ulah sekelompok orang atau kepentingan kelompok tertentu yang dengan cara yang sistematik ingin menghancurkan Islam dari segala penjuru. Wajah Islam kini seakan-akan seram dan menyeramkan, keras dan tidak toleran.

Menampilkan wajah Islam sebagaimana pernah ditampilkan oleh sosok manusia agung baginda Nabi Muhammad SAW menjadi keharusan para aktifis pendakwah Islam, karena apa? Rasulullah SAW pernah bersabda, “Allahul Jamil Yuhibbul Jamal”. Artinya: “Allah itu indah maka Allah suka pada yang indah-indah.” Keindahan Islampun Nampak pada khaidah atau tata cara berdakwah menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, sebagaimana yang digambarkan Allah SWT dalam QS. An Nahl : 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan dakwahnya perlu kita jadikan pegangan dan teladan dalam kehidupan kita saat ini. Kehalusan budi dan akhlak yang mulia yang Beliau contohkan dalam berdakwah perlu kita jadikan referensi kita dalam melangkah mengemban tugas agama dan tugas kemanusiaan. Dalam kisah perjalanan Nabi sudah sering kita  dengar bagaimana Beliau dihina dan dicaci maki oleh seorang Yahudi yang buta di kota Madinah, namun tidak ada sedikitpun rasa benci dan dendam di dalam hati Rasulullah, dan bahkan hampir setiap hari Beliau selalu meluangkan waktu untuk menyuapi (memasukkan makanan ke mulut) seorang Yahudi yang buta tersebut dengan terlebih dahulu mengunyah makanan hingga halus terlebih dahulu sehingga memudahkan si buta tersebut untuk menelan makanan tersebut.

Itulah wajah Islam yang hakkiki, ajaran Islam yang universal, ajaran Islam yang agung, ajaran Islam yang lebih mengutamakan kesejahteraan dan kedamaian untuk semua, apakah itu Yahudi, apakah Nasrani, dalam urusan dunia Nabi telah memberikan teladan yang sangat luar biasa bagaimana Beliau menjalankan tugas kenabian dan kerasulannya dengan penuh kelembutan, dan suara hati lebih dikedepankan dari pada kepalan tangan atau pedang.

Kesimpulan dari tulisan yang sangat singkat ini adalah: Bila kita ingin sukses dalam mengemban misi keagamaan dan kedamaian di dunia dan akhirat maka contohlah baginda Nabi, jangan mencontoh syaithon la’natullah, alih-alih bukan kedamaian yang akan diperoleh tetapi keresahan yang berbuntut pada penistaan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Sekaranglah waktu yang tepat untuk menebar kedamaian, bukan menebar bom yang membuat rasa cemas ketakutan dimana-mana. Semoga Allah SWT  selalu membimbing kita, amin. Ibnu Syirin SS

Add comment


Security code
Refresh