Sumpah Pemuda & Pemuda BERSUMPAH Bangun Karakter Pemuda Maju Bermartabat
Sumpah dan Pemuda. Biasanya saling menempel. Sumpah, atas nama apapun yang lebih memiliki kekuatan, menjadi penting bagi kaum muda. Hal yang di balik semangat heroismenya justru sebenarnya menunjukkan ketidakpercayaan diri. Atau ragu apakah orang yang berusaha diyakinkannya itu akan mempercayai. Pemuda yang entah sejak kapan, acap dianggap belum cukup mampu oleh kaum tua. Tradisi berabad yang acut, yang membentuk jiwa kaum muda tidak pe-de.
Sumpah pun juga ikrar memang berbeda dengan janji ataupun nadzar. Sumpah sesungguhnya adalah ucapan yang diniatkan untuk membangun dan menjaga semangat diri. Menyugesti. Tanpa kewajiban pemenuhan hasil dan bukti. Tapi bukan berarti tanpa arti. Menjadi penting karena ucapan sumpah acap diikatkan kepada sesuatu yang berpunya kuasa tadi. Ada tali semu spiritual yang tegak vertikal. Ikrar memiliki fungsi sugesti yang sama, namun pengikatannya secara horisontal. Kebersamaan, kesepakatan, dan solidaritas pengikrarnya. Janji adalah ucapan yang memuat tanggung jawab kepada yang di luar dirinya akan pemenuhan hasil dan bukti. Sedang nadzar sekadar kepada diri-sendiri dengan kewajiban pelunasan atau pembayaran kaul atas keberhasilan itu sendiri.
Tanggal 28 Oktober 2010, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda (HSP). Sejak 82 tahun yang lalu, pemuda dari berbagai golongan, suku, ras dan agama sepakat dan bersumpah: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia. Dengan suara lantang, dikumandangkan Semangat Ke-Indonesiaan dalam Kebhinekaan, semangat yang dilandasi atas pemikiran bahwa “bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh”, pengalaman masa penjajahan, manakala penjajah mampu memecah belah warga bangsa, sehingga sekian lama bangsa ini terkurung dalam penjajahan.
Menjadi menarik, saat Tema Nasional HSP 2010 dicanangkan "Bangun Karakter Pemuda Demi Bangsa Indonesia Yang Maju dan Bermartabat" Berkarakter, asal katanya “karakter” yang menurut Wyne (1991) berasal dari Bahasa Yunani yang artinya “to mark” (menandai) serta focus pada upaya bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Sementara Soejadi (2009) menyampaikan bahwa karakter suatu bangsa ditentukan oleh karakter setiap individu bangsa itu.
Seberapa pentingkah membangun karakter pemuda bagi bangsa ini ? ditengah kondisi bangsa yang belum menunjukkan perubahan secara signifikan bagi perbaikan di semua sisi ?
Taufik Abdullah (1974) pernah berujar bahwa kehadiran generasi muda atau pemuda bukan semata-mata sebuah gejala demografis, tetapi juga sosiologis dan historis. Ia memandang generasi muda tidak hanya mengisi sebuah episode generasi baru dalam sebuah komunitas masyarakat, tetapi merupakan subjek potensial bagi sebuah perubahan pada komunitas itu sendiri.
Pemuda adalah bagian individu bangsa dengan potensi yang luar biasa dan dipersiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan serta kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejarah perjalanan bangsa membuktikan, sejak masa sebelum kemerdekaan, masa kemerdekaan hingga masa reformasi, pemuda senantiasa menempatkan dirinya sebagai garda depan dalam mengawali setiap perubahan yang terjadi dengan berbagai bentuk pergerakan.
Sumpah Pemuda 1928 dapat terlaksana, karena kesepakatan seluruh komponen pemuda yang secara ikhlas menanggalkan egoisme, sikap individual dan menjunjung tinggi idealisme, bagi memerdekakan bangsa dari belenggu penjajahan.
Idealisme menjadi erat dengan etika dan moral yang mengerucut kepada sebuah sikap atau komitment pada pendirian dan tujuan luhur yang lebih mengedepankan kepentingan masyarakat luas daripada kepentingan pribadi atau kelompok semata.
Idealisme adalah karakter yang akan membentuk kemartabatan, karena martabat artinya menghargai dan menghormati hak siapapun, tanpa memandang perbedaan di semua sisi, bahwa ini artinya menjunjung tinggi upaya penegakan hukum yang berlaku.
Secara psikologis, kalangan pemuda sebagaimana tingkat usia dan tingkat pendidikannya memiliki pemikiran yang idealis. Hal ini diyakini, mengingat perjalanan hidup generasi muda belum terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan atau terpolitisasi.
Namun perlu diwaspadai potensi pemuda pada akhirnya menjadi incaran kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan tertentu, dengan mempergunakan segala cara dalam mempengaruhi pemuda, agar kalangan pemuda dapat sepenuhnya memberikan dukungan kepada kelompok mereka atau menghentikan gerakan-gerakan pemuda yang dianggap mengganggu kepentingan mereka.
Pada tataran ini Idealisme berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, pemenuhan kebutuhan merupakan hal mutlak, di sisi lain perjuangan bagi mempertahankan idealisme merupakan sebuah pertaruhan.
Menjadi pemahaman bersama bahwa nilai-nilai idealisme pemuda dapat kokoh dipertahankan, apabila pemuda memiliki seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya. Namun nilai-nilai tersebut dapat saja tersingkirkan, manakala dirasakan kebutuhan material tidak dapat terpenuhi.
Kemandirian pemuda secara ekonomi menjadi sebuah tuntutan bagi tumbuhnya kemandirian relative, yaitu kemampuan pemuda dalam memenuhi kesejahteraan atau kebutuhan hidupnya masing-masing.
Hanya dengan terus meningkatkan potensi-potensi ekonomi pemuda, maka kalangan pemuda mampu mempertahankan tetap kokoh tegaknya nilai-nilai idealisme bagi memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak.
Membangkitkan jiwa usaha generasi muda atau jiwa berwirausaha memberikan penawaran atau alternatif bagi sebuah proses yang membawa kepada kemandirian relatif dalam waktu yang relatif singkat. Mengapa Demikian?
Secara teori kewirausahaan, seorang pakar ekonomi Perancis J.B. Say sebagaimana dikutif oleh Peter F Drucker (1996), kewirausahaan adalah memindahkan sumber daya ekonomi dari kawasan produktifitas rendah ke kawasan produktifitas tinggi dan mendapatkan hasil yang besar.
Sehingga tugas seorang wirausaha menurut Schumpeter adalah melakukan perombakan kreatifitas (Creative Destruction). Kenyataan ini didukung oleh potensi generasi muda yang senantiasa bergerak melakukan inovasi dan kreatifitas melalui pemikiran-pemikiran segarnya.
Perubahan paradigma generasi muda kearah kemandirian ekonomi menyiratkan bahwa, seiring dengan proses melakukan perubahan social yang mengarah pada perbaikan kondisi bangsa sekaligus membentengi diri dari upaya-upaya yang dilakukan pihak-pihak tertentu yang akan mencoba membelokkan arah perjuangan itu sendiri.
Menggali dan memanfaatkan potensi ekonomi generasi muda selain berdampak pada ketegaran dalam mempertahakan prinsip idealisme, juga dapat membantu menyelesaikan sekian persen permasalahan bangsa dalam meminimalisasi pengangguran yang mayoritas di kalangan generasi muda itu sendiri.
Ketika generasi muda mampu menciptakan kemandirian relatif melalui penggalian potensi ekonomi, maka perjalanan dan perjuangan bangsa ini dalam rangka menumbuhkan kepercayaan dirinya kembali sebagai bangsa besar yang berdaulat akan dapat dicapai. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan pertolongan siapapun, tetapi lebih pada kemerdekaan sikap untuk menentukan langkah dan tujuan kearah perbaikan di semua lini.
Sumpah pemuda dan pemuda bersumpah dapat mempunyai makna yang berbeda. Sumpah pemuda merupakan gabungan dua kata dan bila kita tidak hati-hati memaknainya bisa hanya sekedar slogan, sementara PEMUDA BERSUMPAH merupakan kalimat aktif yang berawalan ber yang berarti melakukan. Jadi suatu tekad pemuda-pemudi Indonesia untuk secara aktif melakukan sesuatu guna menjaga keutuhan, persatuan serta kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam kerangka kebhinekaan. Ibnu Syirin SS
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Sudut Pandang
- Praktek Taqwa “Islam Itu Indah”
- WAJAH SURAM PENDIDIKAN INDONESIA
- Cetak Biru Rencana Kehidupan (blueprint of life plan) di Tahun 2011
- Musibah dan Bencana Menuntun Manusia Agar Kembali ke Jalan yang Benar oleh Ibnu Syirin SS
- Program Asuransi Jiwa Untuk Seluruh Penduduk Indonesia (AJS-PI)? Haruskah! Oleh H.Ibnu Syirin SS
- Sumpah Pemuda & Pemuda BERSUMPAH Bangun Karakter Pemuda Maju Bermartabat
- Dimas Bagus WK: Ekspor Tenaga Unskilled and Less-Educated Ciri Khas Kebijakan ke-tk-an Ind. ke LN
- Analisa Berita Kompas & Republika Ttg.Dulmatin (Sebuah Pertarungan Ideologi)
- Tak Ada Teman yang Abadi, dan yang Ada Hanya Kepentingan yang Bersifat Abadi.
- Mengukur Dalamnya Keyakinan, Oleh M. Arif As-Salman
- Makna Lain Maulid Nabi
- Memperkenalkan Content Baru 'Sudut Pandang'













