Enterpreneur Muslim Oleh Prof. Dr. H. Ahmad Sutarmadi
Berusaha dan bekerja merupakan kewajiban bagi setiap insan, untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Banyak jalan yang dapat ditempuh, bekerja secara sendiri-sendiri, bekerja sama dengan orang lain, atau mendapatkan perintah dan bimbingan dengan dan dari orang lain, dan banyak lagi jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari Allah SWT. Bidang yang digeluti pun bermacam-macam, mulai dari sector pertanian, perikanan, perkebunan, perdagangan, industri, jasa, dll., sesuai dengan kesempatan, kemampuan, peluang yang dimiliki oleh seseorang.
Saat sekarang ini kita membahas tentang Enterpreneur, yakni usahawan ataupun pengusaha ( John M.Echols dan Hassan Shadily, 2000, hal. 216 ) yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah :" Orang yang mengusahakan (perdagangan, industri dlsb;), juga dapat berarti orang yang berusaha di bidang perdagangan; dapat juga disebut juragan, dsb.
Dari pengertian itu kemudian dikembangkan yang lebih luas lagi bahwa entepreneur ialah sikap hidup untuk mendapatkan rizki dari berusaha sendiri ataupun bersama-sama dengan orang lain secara mandiri, "tidak bergantung kepada orang lain". Meskipun kalimat itu dalam arti kata tidak tergantung kepada orang lain dalam arti yang negative, karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang berhubungan dengan orang lain, makhluk social, " zoon politicon".
Kemudian kata enterpreneur itu diekembangkan lagi menjadi wirausaha, yang artinya tidak ingin menjadi pekerja atau pegawai swasta atau pegawai negeri, tentulah arti wira usaha yang luas itu menjadi sangat positif. Karena sikap tidak ingin bekerja dalam perusahaan besar atau kecil, juga menjadi pegawai swasta atau pegawai Negeri, karena kesempatannya menjadi kecil, kemudian berwira usaha adalah sangat positif, karena sesungguhnya peluang berusaha adalah sangat luas. Berwira usaha mulai dari bidang pertanian, perkebunan, nelayan, industri rumah tangga, kerajinan, perdagangan dlsb.dlsb. terbuka luas.
Sesungguhnya bila diperhatikan dan didalami makna amal shalih itu yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur'an, adalah termasuk pengertian entepreneurship, yang insya Allah tidak akan merugi, tetapi tetap beruntung besar, seperti yang dijelaskan dalam surah al-Ashr: ayat 1-3 :
1. demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Itulah pokok-pokok pemikiran yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ahmad Sutarmadi (Sekjen Dewan Masjid Indonesia pada acara seminar sehari dengan tema “Enterpreneur Muslim Berbasis Masjid Da’i-Daiyah & Pengurus Masjid di Indonesia” yang diselenggarakan pada hari Sabtu 19 Februari 2011 di AULA Univ. YARSI Jakarta yang dihadiri 300 peserta dengan nara sumber antara lain : Ardju Fahadaina, M.Sc (Wirausahawan/Direktur PT. UFIA TIRTA MULIA), H. A. Aziz Rifa’i M, SH, MM (Staf Ahli Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bidang Kependudukan & Ketua Umum Fokkus Babinrohis Nasional), Dra. Hj. Nora Ekaliana, MM (Kepala Balai Besar Pengembangan Produktivitas Tenaga Kerja Ditjen Binalattas Kemenakertrans), dll.
Selanjutnya dikatakan bahwa pembahasan dalam seminar ini tentulah dalam kerangka beriman, beramal shalih, berwasiat berbuat yang benar, yang tepat guna dan bersabar dalam kehidupan kita, serta memperhatikan waktu yang sangat berguna dalam kehidupan kita.
Bila pemikiran itu dapat dibahas pada pertemuan ini, tentulah akan sangat berhasil guna dan berdaya guna, bagi para da'i dan da'iyah, dan para pengurus Masjid di Indonesia, apalagi pembahasan itu didampingi nara sumber yang kompeten, dari instansi terkait, dan tenaga ahli yang sangat erat dengan entrepreneurship, tentu akan besar manfaatnya bagi pengembangan ekonomi umat Islam di Indonesia.
Saya menyambut baik upaya pertemuan ini, dan saya berharap ada tindak lanjutnya, ada focus yang dapat dikembangkan, sehingga seminar ini merupakan awal gerakan entrepreneur dilingkungan masjid, dan berbasis kemasjidan. Ini artinya dijadikan awal gerakan peningkatan wira usaha yang disadasarkan pada keimanan, ketaqwaan, kejujuran, keadilan, kebersamaan, jauh dari tipu daya dan kebohongan.
Semoga Allah SWT. meridlai usaha kita, dan berhasil mengentaskan kemiskinan dan menjauhkan dari kesulitan hidup bangsa, khususnya umat Muslim di Indonesia. Demikianlah, dan mari kita buka seminar ini dengan bersama-sama membaca Bismillahirrahmannirrahim. Demikian akhir sambutannya. Red
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Wawancara
- Enterpreneur Muslim Oleh Prof. Dr. H. Ahmad Sutarmadi
- Prof Heru Nugroho: Mitos Merapi Sengaja Dipelihara Untuk Melanggengkan Kekuasaan
- Yusuf Islam: jika Kita Meniru Perilaku Nabi Muhammad Saw, Kita Akan Sukses
- Jatna Supriatna, Alam Itu Ibu, "Mother of Earth"
- Sami Yusuf, Nasyider Terkenal Inggris Allah Memberi Kita Kehormatan dan Kemuliaan Melalui Islam
- Indonesia Kiblat Asuransi Syariah Dunia
- M. Nadratuzzaman Hosen: Sertifikasi Halal Tidak Perlu Jika pemerintah Sudah Mengaturnya
- Hermawan Kartajaya : Ekonomi Islam itu Adil dan Indah













